Keputusan perubahan pengumuman kelulusan UN 2009 di SMK Muhammadiyah Rembang di sembut dengan lega oleh 17 siswa beserta orang tuanya yang sebelunya dinyatakan tidak lulus UN 2009, karena nilai produktifnya belum keluar.
Dengan demikian SMK Muhammadiyah Rembang tingkat kelulusannya naik menjadi 93,75 %
Revisi Pengumumun UN 2009
Ditulis dalam Tidak terkategori
Makalah E-learning
Bagaimana Menerapkan E-leraning di Sekolah ?
Hasan Chasbolah, SPd
SMK Muhammadiyah Rembang
abstrak
Melalui sistem E-learning disekolah ini para guru dapat mengelola materi pelajaran secara on-line, yakni: menyusun SAP, meng-upload materi perkuliahan, memberikan tugas kepada siswa, menerima pekerjaan siswa, membuat tes/quiz, memberikan nilai, memonitor keaktifan siswa, mengolah nilai siswa, berkomunikasi denga siswa melalui forum diskusi dan chat, dll.
siswa dapat mengakses informasi dan materi pembelajaran, berinteraksi dengan sesama siswa dan guru, melakukan transaksi tugas-tugas perkuliahan, mengerjakan tes/quiz, melihat pencapaian hasil belajar, intinya E-learning merupakan pembelajaran jarak jauh dengan media teknologi informasi dan komunikasi.
A. Pendahuluan
Sejalan dengan kemajuan teknologi jaringan dan perkembangan internet, memungkinkan penerapan teknologi ini di berbagai bidang termasuk di bidang pendidikan atau latihan.
Di masa datang penerapan teknologi internet di bidang pendidikan dan latihan akan sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan, terutama di Indonesia yang wilayahnya tersebar di berbagai daerah yang sangat berjauhan. Sehingga diperlukan solusi yang tepat dan cepat dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan mutu pendidikan sekarang. Dengan adanya aplikasi pendidikan jarak jauh yang berbasiskan internet, maka ketergantungan akan jarak dan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pendidikan dan latihan akan dapat diatasi, karena semua yang diperlukan akan dapat disediakan secara online sehingga dapat diakses kapan saja.
Pada Makalah ini akan dijalasakan apa dan bagaimana e-learning itu?
B. Apa itu E- LEARNINING?
Banyak para ahli yang mendefinisikan e-learning sesuai sudut pandangnya. Karena e-learning kepanjangan dari elektronik learning ada yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pembelajaran yang memanfaatkan teknologi elektronik (radio, televisi, film, komputer, internet, dll). Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. Sedangkan Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet.
Secara lebih rinci Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning, yaitu: (a). e-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Persyaratan ini sangatlah penting dalam e-learning, sehingga Rosenberg menyebutnya sebagai persyaratan absolut. (b). e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. CD ROM, Web TV, Web Cell Phones, pagers, dan alat bantu digital personal lainnya walaupun bisa menyiapkan pesan pembelajaran tetapi tidak bisa dikolongkan sebagai e-learning.(c). e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli paradikma tradisional dalam pelatihan. Uraian di atas menunjukan bahwa sebagai dasar dari e-learning adalah pemanfaatan teknologi internet. Jadi e-learning merupakan bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet. Oleh karena itu e-learning dapat digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh dan juga sistem pendidikan konvensional. Dalam pendidikan konvensional fungsi e-learning bukan untuk mengganti, melainkan memperkuat model pembelajaran konvensional. Dalam hal ini Cisco (2001) menjelaskan filosofis e-learning sebagai berikut: (a). e-learning merupakan penyampian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihansecaraon-line.(b). e-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi.(c). e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan. (d). Kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar conten dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik
.
C. Bagaimana Sistem Pendukung dalam e-learning ?
1. Aplikasi Web
Web merupakan salah satu tekonologi internet yang telah berkembang sejak lama dan yang paling umum dipakai dalam pelaksanaan pendidikan dan latihan jarak jauh (e-Learning).
Secara umum aplikasi di internet terbagi menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut:
· Synchronous System
Aplikasi yang berjalan secara waktu nyata dimana seluruh pemakai bisa berkomunikasi pada waktu yang sama, contohnya: chatting, Video Conference, dsb.
· Asynchronous System
Aplikasi yang tidak bergantung pada waktu dimana seluruh pemakai bisa mengakses ke sistem dan melakukan komunikasi antar mereka disesuaikan dengan waktunya masing-masing, contohnya: BBS, e-mail, dsb.
Dengan fasilitas jaringan yang dimiliki oleh berbagai pendidikan tinggi atau institusi di Indonesia baik intranet maupun internet, sebenarnya sudah sangat mungkin untuk diterapkannya sistem pendukung e-Learning berbasis Web dengan menggunakan sistem synchronous atau asynchronous, namun pada dasarnya kedua sistem diatas biasanya digabungkan untuk menghasilkan suatu sistem yang efektif karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Dibeberapa negara yang sudah maju dengan kondisi infrastruktur jaringan kecepatan tinggi akan sangat memungkinkan penerapan teknologi multimedia secara waktu nyata seperti video conference untuk kepentingan aplikasi e-Learning, tetapi untuk kondisi umum di Indonesia dimana infrastruktur jaringannya masih relatif terbatas akan mengalami hambatan dan menjadi tidak efektif. Namun demikian walaupun tanpa teknologi multimedia tersebut, sebenarnya dengan kondisi jaringan internet yang ada sekarang di Indonesia sangat memungkinkan, terutama dengan menggunakan sistem asynchronous ataupun dengan menggunakan sistem synchronous seperti chatting yang disesuaikan dengan sistem pendukung pendidikan yang akan dikembangkan.
2. Sistem Pendukung Pendididikan
Dengan adanya sistem ini proses pengembangan pengetahuan tidak hanya terjadi di dalam ruangan kelas saja dimana secara terpusat guru memberikan pelajaran secara searah, tetapi dengan bantuan peralatan komputer dan jaringan, para siswa dapat secara aktif dilibatkan dalam proses belajar-mengajar. Mereka bisa terus berkomunikasi sesamanya kapan dan dimana saja dengan cara akses ke sistem yang tersedia secara online. Sistem seperti ini tidak saja akan menambah pengetahuan seluruh siswa, akan tetapi juga akan turut membantu meringankan beban guru dalam proses belajar-mengajar, karena dalam sistem ini beberapa fungsi guru dapat diambil alih dalam suatu program komputer yang dikenal dengan istilah agent [5].
Disamping itu, hasil dari proses dan hasil dari belajar-mengajar bisa disimpan datanya di dalam bentuk database, yang bisa dimanfaatkan untuk mengulang kembali proses belajar-mengajar yang lalu sebagai rujukan, sehingga bisa dihasilkan sajian materi pelajaran yang lebih baik lagi.
3. Collaboration
Collaboration didefinisikan sebagai kerjasama antar peserta dalam rangka mencapai tujuan bersama [1]. Collaboration tidak hanya sekedar menempatkan para peserta ke dalam kelompok-kelompok studi, tetapi diatur pula bagaimana mengkoordinasikan mereka supaya bisa bekerjasama dalam studi [2].
Saat ini penelitian di bidang kolaborasi melalui internet dikenal dengan istilah CSCL (Computer Supported Collaborative Learning), dimana pada prinsipnya CSCL berusaha untuk mengoptimalkan pengetahuan yang dimiliki oleh para peserta dalam bentuk kerjasama dalam pemecahan masalah. Kenyataannya kolaborasi antar peserta cenderung lebih mudah dibandingkan dengan kolaborasi antara peserta dengan guru [6].
Gambar 1 menunjukkan konsep e-Learning dengan metoda CSCL, yang terdiri dari pemakai dan tool yang digunakan. Pemakai terdiri dari siswa dan guru yang membimbing, dimana siswa itu sendiri terbagi menjadi siswa dan siswa lain yang bertindak sebagai collaborator selama proses belajar. Para peserta saling berkolaborasi dengan tool yang tersedia melalui jaringan intranet atau internet, dimana guru mengarahkan jalannya kolaborasi supaya mencapai tujuan yang diiginkan.
Dalam pelaksanaan sistem e-Learning, kolaborasi antar siswa akan menjadi faktor yang esensial [3][5], terutama pada sistem asynchronous dimana para siswa tidak secara langsung bisa mengetahui kondisi siswa lain, sehingga seandainya terjadi masalah dalam memahami makalah yang disediakan, akan terjadi kecenderungan untuk gagal mengikutinya dikarenakan kurangnya komunikasi antar siswa, sehingga timbul kecenderungan terperangkap pada kondisi standstill, sehingga menyebabkan hasil yang tidak diharapkan.
Ada 5 hal essensial [6] yang harus diperhatikan dalam menjalankan kolaborasi lewat internet, yaitu sebagai berikut:
(a) clear, positive interdependece among students
(b) regular group self-evaluation
(c) interpersonal behaviors that promote each member’s learning and success
(d) individual accountability and personal responsibility
(e) frequent use of appropriate interpersonal and small group social skills
Dalam proses kolaborasi antar siswa, guru bisa saja terlibat didalamnya secara tidak langsung, dalam rangka membantu proses kolaborasi dengan cara memberikan arahan berupa message untuk memecahkan masalah. Sehingga diharapkan proses kolaborasi menjadi lebih lancar.
4. Konfigurasi Sistem
Gambar 2 menunjukkan struktur global dari sistem pendukung untuk e-Learning. Pemakai sistem dalam hal ini siswa dan guru dapat mengakses ke sistem dengan menggunakan piranti lunak browser.
Seperti pada gambar 2, Implementasi client/server untuk sistem penunjang pendidikan berbasis kolaborasi di internet, pada dasarnya harus memiliki bagian-bagian sebagai berikut:
· Collaboration, untuk melakukan kerjasama antar siswa dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kolaborasi ini bisa diwujudkan dalam bentuk diskusi atau tanya-jawab dengan memanfaatkan fasilitas internet yang umum dipakai misalnya: e-mail, BBS, chatting, dikembangkan sesuai dengan kebutuhan aplikasi yang akan dibuat.
· Database, untuk menyimpan materi pelajaran dan record-record yang berkaitan dengan proses belajar-mengajar khususnya proses kolaborasi.
· Web Server, merupakan bagian mengatur akses ke sistem dan mengatur tampilan yang diperlukan dalam proses pendidikan. Termasuk pula pengaturan keamanan sistem.
Pengembang aplikasi seperti ini bisa dilakukan dengan menggunakan software sebagai berikut:
|
Platform OS |
Linux |
|
Web Server |
Apache+Tomcat |
|
Programming |
Java |
|
Script |
Java Server Page |
|
Database |
MySQL / Postgress |
|
Frame Work |
Struts |
|
Development Tool |
Eclipse |
Keuntungan menggunakan software diatas yaitu seluruhnya merupakan Open Source yang bisa didownload secara gratis dari web site masing-masing, sehingga dalam implementasinya bisa ditekan biaya serendah mungkin, tanpa mengurangi realibilitas sistem itu sendiri. Keuntungan lainnya yaitu untuk akses ke sistem seperti ini tidak tergantung pada suatu platform operating system.
Oleh karena itu, dengan penerapan berbagai software Open Source seperti ini, diharapkan akan dicapai suatu sistem e-Learning yang aman, terpercaya, performance tinggi, multiplatform, dan biaya rendah.
D. Apa yang harus disiapkan dalam system e-learning di sekolah
a. Tim IT
Tim IT merupakan tenaga professional di garis depan yang memiliki kemampuan dibidang IT diantaranya adalah progamer, desaigner web, teknisi computer. TIM IT ini yang akan membuat web yang mudah diakses dipahami oleh guru maupun siswa, idealnya para guru dan siswa mendapat pelatihan IT terlebih dahulu karena tidak semua guru melek teknologi informasi komunikasi.
Tim IT bertanggung jawab penuh atas tersedianya sarana dan prasaran apa yang dibutuhkan dalam pengembangan E-learning di sekolah misalnya, pemilihan Personal Computer yang cocok digunakan, pemilihan hardware dan software yang mendukung. Sedangkan sekolah sebagai instusi harus bisa menyiapkan secara financial.
Selain penyedia sarana dan prasarana tim IT ini bertugas atas kelancaran system e-learning termasuk diantaranya perawatan dan perbaikan software dan hardware yang ada di sekolah.
b. Guru
Semua guru harus memahami, paling tidak mampu mengoperasikan computer, harus mau belajar untuk memahami teknolgi informasi, karena guru dalam system e-learning ini nanti bisa memberikan tugas pembelajaran kepada siswa melalui internet lewat web sekolah yang telah dibuat.
c. Siswa
Siswa dalam hal e-learning merupakan sasaran dalam pembelajaran jarak jauh mestinya siswa harus siap dalam pembelajaran e-learning, kebetulan Teknologi Informasi sudah disampaikan pembelajaran dalam kurikulum sejak mulai SMP tentunya siswa akan mudah memahami system e-learning
d. Pelatihan TIK
Pelatihan Teknologi Informassi sangat baik diadakan di sekolah untuk Kepala Sekolah, guru, siswa dan karyawan, berdasarkan pengalaman penulis saat penulis mendapatkan pelatihan TIK untuk guru di ITC Pati TUK SMK TUNAS HARAPAN PATI saat itu penulis belum begitu menyukai TIK suka saja tidak apalagi memahami, begitu penulis mendapat pelatihan TIK penulis sangat tertarik akhirnya penulis selalu belajar dengan membeli buku, konsultasi dengan teman, download internet. Jadi keinginan memahami TIK awalnya dari pelatihan TIK.
E. Penutup
Sejalan dengan perkembangan teknologi jaringan khususnya internet, dan pemerataan pemakaian fasilitas internet di Indonesia, maka sudah selayaknya untuk memulai penerapan teknologi ini di bidang pendidikan, yang diharapkan dapat menunjang peningkatkan mutu pendidikan khususnya pendidikan tinggi dan institusi yang relatif telah memiliki fasilitas jaringan komputer.
Dalam makalah ini telah dibahas berbagai fasilitas penunjang yang bisa dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi internet dengan biaya yang seminimal mungkin melalui pemanfaatan Open Source tanpa mengurangi kualitas sistem.
Faktor kolaborasi menjadi penting dalam rangka menciptakan sistem pendidikan yang lebih efektif, karena dalam sistem pendidikan jarak jauh faktor komunikasi antar peserta akan menjadi penentu dalam menentukan perolehan pengetahuan yang dicapai oleh setiap siswa.
Permasalahan kedepan yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut:
- Pengembangan Student Model dari database untuk menformulasikan karakter siswa sehingga sistem mampu mendeteksi kondisi siswa yang bermasalah.
- Pengaturan pemakaian tool synchronous dan asynchronous dalam pelaksanaan kolaborasi, supaya tidak terjadi duplikasi yang membahas masalah yang sama berulang-ulang.
- Membuat fasilitas penyusunan makalah di Web yang memudahkan para guru tanpa perlu mengetahui perintah-perintah secara mendetail, yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk berkolaborasi.
Daftar Pusataka
http://renggani.blogspot.com/2007/07/makalah-model-inovasi-e-learning.html
Sistem Pendukung e-Learning di Web
Ana Hadiana*, Elan Djaelani*
Peneliti Puslit Informatika
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Ditulis dalam Makalah Guru
Pelatihan Jardiknas Tahun 2007 untuk guru
Pelatihan Jardiknas Tahun 2007 untuk guru dilaksanakan di ICT Kabupaten Rembang mulai tanggal 22 Oktober 2007 diikuti oleh 16 peserta dari SD, SMP, maupun SMK
Materi yang diajarkan yaitu :
- Pre Test 1 Jam
- Jardiknas 3 Jam
- Pengoperasian PC 1 Jam
- Pengoperasian Periferal 1 Jam
- Pengolah kata 4 jam
- Lembar Sebar 4 Jam
- Presentasi 6 Jam
- Basis Data 2 Jam
- Koneksi Internet 6 Jam
- Pengelolaan Informasi 2 Jam
- Ujian Sertifikasi KKPI (Post Test) 8 jam
Ditulis dalam Berita, Tidak terkategori
Pelatihan Jardiknas Tahun 2007 untuk Guru
Pelatihan Jardiknas Tahun 2007 untuk Guru dilaksanakan di ICT Center Kabupaten Rembang mulai tanggal 22 Oktober 2007 dikuti 16 peserta dari SD, SMP maupun SMA/SMK
Materi yang diajarkan yaitu :
Pre Test 1 Jam
Jardiknas 3 jam
Pengoperasian Komputer Personal 3 jam
Pengoperasian Periferal 1 Jam
Pengolah Kata 1 Jam
Lembar Sebar 4 Jam
Basis Data 2 Jam
Koneksi Internet 6 jam
Pengelolaan Informasi 2 Jam
Ujian Sertifikasi KKPI (Post Test ) 8 jam
Ditulis dalam Berita

